Kualitas Udara Makin Buruk, Pemprov Perketat Aturan Ganjil Genap

Pemrov DKI Jakarta Bakal Terapkan Kebijakan Uji Emisi

Ilustrasi (Foto: Dok Beritajakarta)
banner 468x60

PECIMERAH.COM – Pemprov DKI Jakarta akan memperketat pembatasan mobil pribadi lewat aturan ganjil genap. Pasalnya, kualitas udara di lingkungan ibukota ini semakin burun lantaran musim kemarau yang berkepanjangan.

Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengatakan, penurunan kualitas udara ditandai dengan meningkatnya konsentrasi partikel udara alias PM 2.5. Hal tersebut terjadi karena curah hujan dan kecepatan angin rendah mengakibatkan partikel ini terakumulasi dan melayang di udara dalam waktu yang lama.

“Hasil pantauan konsentrasi PM 2.5 di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) DLH DKI Jakarta menunjukkan pola diurnal (proses berulang setiap hari) yang mengindikasikan perbedaan pola antara siang dan malam hari. Konsentrasi PM 2.5 cenderung mengalami peningkatan pada waktu dini hari hingga pagi dan menurun di siang hingga sore hari,” ujar Asep dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (18/6/2023).

Sejauh ini Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta juga telah menggandeng Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mewaspadai penurunan kualitas udara akibat musim kemarau.

Asep merincikan, pada periode akhir Mei hingga awal Juni, konsentrasi rata-rata harian PM 2.5 berada pada level 47,33- 49,34 µg/m3. Kemudian, pada periode 21 Mei hingga 7 Juni 2023, konsentrasi PM 2.5 mengalami penurunan kualitas udara dan berada dalam kategori sedang hingga kategori tidak sehat.

Ardhasena Sopaheluwakan, Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG menambahkan, proses pergerakan polutan udara seperti PM 2.5 dipengaruhi oleh angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Angin yang membawa PM 2.5 dari sumber emisi dapat bergerak menuju lokasi lain, sehingga menyebabkan terjadinya potensi peningkatan konsentrasi PM 2.5.

Selain itu, kelembaban udara relatif yang tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan. Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

“Dampak dari keberadaan lapisan inversi menyebabkan PM 2.5 yang ada di permukaan menjadi tertahan, tidak dapat bergerak ke lapisan udara lain, dan mengakibatkan akumulasi konsentrasinya yang terukur di alat monitoring,” ujar Ardhasena.

Selain memperketat aturan ganjil genap, pemprov juga berencana untuk menerapkan kebijakan uji emisi. Harapannya, penurunan kualitas udara di ibu kota bisa ditanggulangi dari sumber polusi yang berasal dari sektor transportasi.